Pada hari itu, saya pulang bareng teman saya. Namanya Susi. Jadi waktu pulang kami membahas tentang buku yang sedang saya baca yaitu Jejak Langkah karya Pramoedya Ananta Toer. Kami mendiskusikan tentang potongan cerita dimana Minke mempertanyakan keanggotaan Boedi Oetama yang hanya boleh dianggotai oleh orang Jawa. Diskusi berlangsung menarik. Saya menutup diskusi itu dengan perkataan “mungkin kalau saya tidak membaca buku ini, saya tidak akan tahu bahwa ada pahlawan yang seperti Minke alias TAS. Susi lalu mengatakan bahwa banyak sekali pahlawan yang kurang dikenal (dan tentunya kurang dihargai) di Indonesia. Saya menyetujui apa yang dibicarakan susi*meski loading dulu untuk mencernanya. Susi menceritakan tentang kakeknya yang dulu adalah pahlawan. “pasti dulu beliau sangat gagah,(ya iyalah secara rela mati demi negeri tercinta) tapi lihat sekarang beliau sudah dimakan usia dan beliau tidak mendapatkan balasan apa-apa.” Memang benar bahwa di Bumi kita tercinta ini, banyak pahlawan yang tidak mendapat penghargaan. Mungkin anda bisa mengatakan bahwa pahlawan dihargai di Indonesia. Buktinya setiap senin kita menyanyikan lagu untuk ARWAH para pahlawan yang telah GUGUR DI MEDAN PERANG. Lalu, bagaimana dengan mereka yang masih hidup?
Berapa besar penghargaan kita untuk mereka? Mereka berkorban harta, raga, jiwa, nyawa mereka untuk kita. Namun apa yang kita berikan untuk mereka? Doa? Cukupkah itu? Susi lalu mengatakan “Sementara para pahlawan yang masih hidup telah kehilangan harta, tenaga, kekuatan tubuh mereka, banyak elit politik di atas sana berebut kekuasaan.” Saya meneruskan dalam hati Apa yang mereka perebutkan? Kekuasaan… apalah kekuasaan itu? Kenapa diperebutkan? Adalah dia abadi? Mungkin kekuasaan akan abadi karena ia selalu ada selama manusia masih berdiri, tapi bagaimana dengan pemiliknya? Kenapa harus berebut untuk memiliki kekuasaan sedang kita pasti kehilangannya.
Lalu saya mengganti topic membahas tentang orang Islam Indonesia. Saya berkata pada susi bahwa orang Islam di Indonesia lumayan taat untuk mengerjakan salat 5 waktu. Susi tidak menyetujui hal itu. Saya menjelaskan bahwa “secara fisik orang Islam Indonesia mengaji, shalat, puasa. NAMUN,secara makna jujur orang Islam Indonesia masih meragukan.”*begitu pula dengan diri saya,hehe.
Berikut gambaran ketidakmaknaan menurut saya.
Bagi para pelajar.
Pelajar : aku itu tidur waktu pelajaran(hehe. Jujur saya sendiri pernah melakukannya). aku itu nggak pernah merhatiin guru. Aku itu jarang belajar. Aku ke sekolah cuma buat ketemu temen aja.* kalo kayak gini mah buat apa tuh neng sekolah?
Bagi guru.
Guru : saya itu hanya fasilitator. Yang penting saya masuk kelas. Ketemu murid. Menjelaskan, peduli apa murid jelas atau tidak, yang penting tugas saya selesai. Toh, nilai semester mereka bagus.
Bagi anggota organisasi
X : lho kamu kan sie konsumsi kok nggak bantu-bantu di dapur?
Anggota organisasi : oh, iya toh aku konsumsi. Aku malah nggak tahu.
Dll*contoh lain temukan sendiri.
Bahas bahas kenapa ya kok islam di Indonesia itu nggak terlalu bagus? Sebagai negeri dengan mayoritas muslim dunia (terakhir tahun 2007an saya baca 40% muslim dunia di Indonesia)kenapa ya kita itu kalah dengan negeri Islam lain. Sebagai contoh Arab ya. Arab yang gersang dan tandus kok bisa lebih maju dari kita ya? Mungkinkah karena kita tidak memahami makna?
Kamis, 24 Desember 2009
makna
Label: makna
Diposting oleh uli di 11.56.00 0 komentar
jika aku jadi menkominfo (ih wew)
jika saya adalah seorang menkominfo...
hm,what should i do? Dengan i (kecil) bukan I (besar) alias berkhayal,hehe
1. memberi award bulanan bagi mitra saya di dalam depkominfo. Bukan untuk mencari muka. Seperti yang kita tahu bahwa jika saya menjadi menkominfo, saya akan bersinergi dengan banyak orang di dalam depkominfo. Pemberian award ini bisa digunakan untuk meningkatkan kualitas mitra saya di depkominfo. Tentu saja agar tidak menimbulkan kecemburuan, penilaian bisa dilakukan bersama seluruh anggota depkominfo.
2. mengadakan pertemuan rutin antara semua media massa di indonesia (bisa elektronik, cetak maupun keduanya) agar saling bertukar pikiran. Selama ini, banyak media massa yang salah dalam mengartikan kebebasan pers. Dengan pertemuan rutin tadi, diharapkan agar media massa mampu menghasilkan sebuah keputusan, peraturan maupun evaluasi agar media massa tidak terlalu bebas (dalam arti keterlaluan) ketika memuat suatu berita dan tentunya media massa itu sendiri tidak merasa terlalu dikekang. Selain itu, media massa juga bisa sharing tentang tayangan, info, dan pemberitaan mana yang layak cetak atau layak ditayangkan. Intinya semua pihak diuntungkan (baik pemerintah, media massa, "target pemberitaan", maupun masyarakat). Tak hanya itu, dengan pertemuan ini, diharapkan media massa daerah bisa menyerap ilmu dari media massa nasional. Dengan sendirinya, kualitas media massa sendiri akan meningkat.
3. membuat award bagi media massa terbaik setiap bulan, 3 bulan sekali atau 6 bulan sekali. media massa terbaik dapat dinilai bukan dari keberpihakannya pada pemerintah,namun dari isi pemberitaan yang seimbang, selaras dan harmonis.
4. Mengoptimalkan fungsi pos. Selama ini kantor pos hanya dikunjungi pada waktu pengambilan gaji saja (dan juga BLT). Tentu saja hal ini sangat disayangkan. Kegiatan seperti peluncuran perangko dengan gambar makanan tradisional,dll mungkin bisa ditingkatkan. Selain itu, lomba menulis surat untuk tokoh Negara yang dikirim lewat pos juga bisa ditambah.pembayaran pajak di pos juga bisa dioptimalkan.
5. Membuat situs jejaring sendiri bagi masyarakat Indonesia. jika friendster bisa dimiliki oleh orang malaysia, kenapa orang Indonesia tidak punya sendiri...*masalah biaya ya?
6. Memperbanyak hotspot di Indonesia. di Indonesia, jarang terdapat hotspot. meskipun banyak yang punya laptop dengan wireless network connection, maupun LAN tentunya tiada akan berguna tanpa adanya koneksi,hhehhe
7. Membantu daerah pelosok agar mampu mengikuti perkembangan jaman dengan mendirikan tempat seperti warnet namun milik Negara. Agar penggunaannya optimal, disertai pula pengawas di setiap tempat. Jangan sampai terjadi antrian panjang ternyata hanya untuk digunakan mengakses situs porno.OMG!
8. Memberi label al-amin bagi situs yang menyediakan informasi dan dapat dipercaya. Misal, untuk tugas bahasa Indonesia, saya pernah googling dengan keyword “contoh surat perjanjian”. Banyak hasil penelusuran dari berbagai macam situs. Namun sayangnya, banyak yang tidak sesuai dengan standar surat perjanjian. Parahnya lagi, ketika saya melihat komentar untuk artikel tersebut banyak yang memuji artikel itu.
9. Menciptakan situs yang sistematik bagi situs penyedia informasi, untuk menghindari generasi copy paste. Yang dimaksud dengan situs yang sistematik adalah setiap bidang memiliki sebuah situs dimana subbidangnya terdapat pada situs itu. Misal untuk fisika memiliki situs fisikajempolan.co.id dimana di situs itu kita bisa mendapat semua informasi tentang pelajaran fisika untuk semua grade. Jika situs untuk satu bidang hanya satu, maka pelajar pasti hanya copy paste di situs itu sehingga guru tahu mana pelajar yang copy paste dan mana pelajar yang menggunakan situs sebagai referensi. (Banyaknya artikel di dunia maya, membuat banyak pelajar hobi menjiplak alias copy paste. Ada tugas ini, searching bentar, ketemu, copy, paste, print, dikumpulkan. Memang hal ini terbukti mempermudah, dan mempersingkat waktu. Tapi bagaimana dengan ilmu yang didapat? Mungkin bisa diakali dengan UU hak cipta. Namun, buku yang jelas hak ciptanya masih saja dicopy. Untuk menghindari hal ini, banyak guru yang mengakalinya dengan memberikan tugas bukan diprint tapi ditulis. Padahal tidak semua orang tulisannya bagus*termasuk saya, :D.Alhasil guru juga repot jika harus membaca tulisan yang seperti cacing disko. Guru lalu kembali ke tugas diprint). Mungkin banyak kalangan yang akan memprotes dan menganggap hal itu sebagai pengekangan sumber ilmu. Akali saja dengan memperbolehkan setiap orang memposting artikel di situs tersebut*asal bertanggungjawab. Posting diletakkan sesuai dengan kriteria bidang.
10. Mengadakan tukar pikiran dengan wartawan, reporter, pembaca berita, penyiar, dll. Menanyakan kesulitan mereka. Saya pernah membaca keluhan reporter yang gajinya sedikit namun kerjanya banyak,dll. Bagaimanapun juga, mereka ikut menopang kemajuan informasi dan komunikasi di Indonesia.
Label: bismillah
Diposting oleh uli di 11.26.00 0 komentar
