jika saya adalah seorang menkominfo...
hm,what should i do? Dengan i (kecil) bukan I (besar) alias berkhayal,hehe
1. memberi award bulanan bagi mitra saya di dalam depkominfo. Bukan untuk mencari muka. Seperti yang kita tahu bahwa jika saya menjadi menkominfo, saya akan bersinergi dengan banyak orang di dalam depkominfo. Pemberian award ini bisa digunakan untuk meningkatkan kualitas mitra saya di depkominfo. Tentu saja agar tidak menimbulkan kecemburuan, penilaian bisa dilakukan bersama seluruh anggota depkominfo.
2. mengadakan pertemuan rutin antara semua media massa di indonesia (bisa elektronik, cetak maupun keduanya) agar saling bertukar pikiran. Selama ini, banyak media massa yang salah dalam mengartikan kebebasan pers. Dengan pertemuan rutin tadi, diharapkan agar media massa mampu menghasilkan sebuah keputusan, peraturan maupun evaluasi agar media massa tidak terlalu bebas (dalam arti keterlaluan) ketika memuat suatu berita dan tentunya media massa itu sendiri tidak merasa terlalu dikekang. Selain itu, media massa juga bisa sharing tentang tayangan, info, dan pemberitaan mana yang layak cetak atau layak ditayangkan. Intinya semua pihak diuntungkan (baik pemerintah, media massa, "target pemberitaan", maupun masyarakat). Tak hanya itu, dengan pertemuan ini, diharapkan media massa daerah bisa menyerap ilmu dari media massa nasional. Dengan sendirinya, kualitas media massa sendiri akan meningkat.
3. membuat award bagi media massa terbaik setiap bulan, 3 bulan sekali atau 6 bulan sekali. media massa terbaik dapat dinilai bukan dari keberpihakannya pada pemerintah,namun dari isi pemberitaan yang seimbang, selaras dan harmonis.
4. Mengoptimalkan fungsi pos. Selama ini kantor pos hanya dikunjungi pada waktu pengambilan gaji saja (dan juga BLT). Tentu saja hal ini sangat disayangkan. Kegiatan seperti peluncuran perangko dengan gambar makanan tradisional,dll mungkin bisa ditingkatkan. Selain itu, lomba menulis surat untuk tokoh Negara yang dikirim lewat pos juga bisa ditambah.pembayaran pajak di pos juga bisa dioptimalkan.
5. Membuat situs jejaring sendiri bagi masyarakat Indonesia. jika friendster bisa dimiliki oleh orang malaysia, kenapa orang Indonesia tidak punya sendiri...*masalah biaya ya?
6. Memperbanyak hotspot di Indonesia. di Indonesia, jarang terdapat hotspot. meskipun banyak yang punya laptop dengan wireless network connection, maupun LAN tentunya tiada akan berguna tanpa adanya koneksi,hhehhe
7. Membantu daerah pelosok agar mampu mengikuti perkembangan jaman dengan mendirikan tempat seperti warnet namun milik Negara. Agar penggunaannya optimal, disertai pula pengawas di setiap tempat. Jangan sampai terjadi antrian panjang ternyata hanya untuk digunakan mengakses situs porno.OMG!
8. Memberi label al-amin bagi situs yang menyediakan informasi dan dapat dipercaya. Misal, untuk tugas bahasa Indonesia, saya pernah googling dengan keyword “contoh surat perjanjian”. Banyak hasil penelusuran dari berbagai macam situs. Namun sayangnya, banyak yang tidak sesuai dengan standar surat perjanjian. Parahnya lagi, ketika saya melihat komentar untuk artikel tersebut banyak yang memuji artikel itu.
9. Menciptakan situs yang sistematik bagi situs penyedia informasi, untuk menghindari generasi copy paste. Yang dimaksud dengan situs yang sistematik adalah setiap bidang memiliki sebuah situs dimana subbidangnya terdapat pada situs itu. Misal untuk fisika memiliki situs fisikajempolan.co.id dimana di situs itu kita bisa mendapat semua informasi tentang pelajaran fisika untuk semua grade. Jika situs untuk satu bidang hanya satu, maka pelajar pasti hanya copy paste di situs itu sehingga guru tahu mana pelajar yang copy paste dan mana pelajar yang menggunakan situs sebagai referensi. (Banyaknya artikel di dunia maya, membuat banyak pelajar hobi menjiplak alias copy paste. Ada tugas ini, searching bentar, ketemu, copy, paste, print, dikumpulkan. Memang hal ini terbukti mempermudah, dan mempersingkat waktu. Tapi bagaimana dengan ilmu yang didapat? Mungkin bisa diakali dengan UU hak cipta. Namun, buku yang jelas hak ciptanya masih saja dicopy. Untuk menghindari hal ini, banyak guru yang mengakalinya dengan memberikan tugas bukan diprint tapi ditulis. Padahal tidak semua orang tulisannya bagus*termasuk saya, :D.Alhasil guru juga repot jika harus membaca tulisan yang seperti cacing disko. Guru lalu kembali ke tugas diprint). Mungkin banyak kalangan yang akan memprotes dan menganggap hal itu sebagai pengekangan sumber ilmu. Akali saja dengan memperbolehkan setiap orang memposting artikel di situs tersebut*asal bertanggungjawab. Posting diletakkan sesuai dengan kriteria bidang.
10. Mengadakan tukar pikiran dengan wartawan, reporter, pembaca berita, penyiar, dll. Menanyakan kesulitan mereka. Saya pernah membaca keluhan reporter yang gajinya sedikit namun kerjanya banyak,dll. Bagaimanapun juga, mereka ikut menopang kemajuan informasi dan komunikasi di Indonesia.
Kamis, 24 Desember 2009
jika aku jadi menkominfo (ih wew)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar